Sedangkan untuk pasien yang rawat inap di kelas II dan kelas I tetap naik sekitar 200 persen. Rinciannya, kelas II dari Rp 12,5.000 menjadi Rp 50.000. Untuk kelas I yang semula Rp 65.000 berubah menjadi Rp 125.000.
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua DPRD Trenggalek Sukono. Anggota dewan yang diberangkatkan dari Partai Golkar itu memaparkan, pembebasan biaya rawat inap khusus kelas III sudah didasari berbagai pertimbangan. Baik kondisi masyarakat maupun keuangan pemerintah.
Yang pasti, dibebaskanya biaya rawat inap kelas III tersebut lebih dititikberatkan kepada kondisi masyarakat yang semakin tertekan akibat kenaikan harga BBM. “Alasan primernya seperti itu,” tukas Sukono ditemui RaTu di kantornya kemarin.
Untuk kondisi keuangan daerah, diungkapkan Sukono, tidak terpengaruh atas keputusan Pansus II. Sebab, beban keuangan akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah daerah serta pusat. “Karena ditanggung bersama, beban keuangan tidak akan berat,” papar dewan yang berdomisili di Munjungan itu.
Sukono menambahkan, pemberlakuan pembebasan biaya tersebut diperuntukan bagi semua pasien yang menjalani rawat inap di RSUD dr Soedomo. Baik itu pasien yang namanya terdapat dalam surat keputusan(SK) bupati maupun yang tidak. Sebab, berdasar laporan yang ada, ribuan warga miskin di Kabupaten Trenggalek tidak tercatut dalam SK bupati. “Tidak ada perkecualian. Yang rawat inap di kelas III gratis,” tegas Sukono.
Seperti diberitakan sebelumnya, RSUD Dr Soedomo mengajukan kenaikan tarif sekitar 500 persen. Keputusan menaikkan tarif rawat inap didasari berbagai pertimbangan. Salah satu diantaranya tingginya subsidi yang harus ditanggung pihak rumah sakit maupun pemerintah daerah. Walaupun sudah naik 500 persen, tarif tersebut masih belum sesuai dengan riil cost yang harus dikeluarkan.
Persiapan SDN 2 Surondakan Menuju Sekolah Rintisan Berstandar Internasional
Sekolah Dasar Negeri 2 Surondakan, Trenggalek, ditunjuk Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sebagai sekolah rintisan standar internasional (SRBI). Seperti apa persiapanya?Sesuai jadual yang ditentukan, mulai kemarin, siswa kelas VI sekolah dasar mengikuti ujian akhir semester. Tak terkecuali bagi siswa SDN 2 Surondakan. Papan tulis bertuliskan Harap Tenang Ujian Semester dipajang di dua lokal yang digunakan tempat ujian. Sedangkan siswa kelas I hingga V tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) seperti biasa.
Seluruh lokal direncanakan rampung bulan depan bersamaan dengan penerimaan siswa baru (PSB). Saat itu program SRBI seperti yang dipercayakan Departeman Pendidikan Nasional (Depdiknas) kepada SDN 2 Surondakan secara riil mulai dilakukan.
Walaupun begitu, kini beberapa program pembelajaran sesuai petunjuk Depdiknas mulai dilakukan. Salah satunya pengantar Bahasa Inggris dalam setiap kali penyampaian materi. “Sudah kita coba. Tapi, belum maksimal,” kata Parlan ketika ditemui diruang kerjanya kemarin.
Selain itu, pengenalan berikut aplikasi komputer kepada siswa juga sudah dimulai. Tapi, karena keterbatasan sarana, tidak seluruh siswa mendapatkan pembelajaran komputer. Kini hanya ada dua unit komputer yang digunakan seluruh siswa. “Sementara pakai dua unit milik sekolah,” papar pria yang berdomisili di Desa Parakan, Kecamatan Trenggalek, itu.
Suyidi, guru agama, yang siang itu mendampingi Parlan menambahkan, fasilitas lain penunjang program SBI, seperti layar LCD, maupun speaker aktif, kini sudah tersedia. Begitu juga air conditioner (AC) yang wajib ada pada lokal SBI. Beberapa fasilitas tersebut merupakan hasil swadaya sekolah bekerjasama dengan komite. Termasuk pembangunan ruang wali murid serta guru yang kini sudah mencapai 95 persen. “Kita terus kerja sama dengan komite sekolah. Hasilnya lumayan,” jelasnya.
Karena program SBI sepenuhnya kebijakan dari Depdiknas, maka seluruh fasilitas penunjang nantinya diberikan langsung oleh pusat. Kini,yang jadi tugas berat bagi sekolah adalah penyediaan tenaga pendidik. Sebab, saat ini dari 10 tenaga pendidik yang ada di SDN 2 Surondakan, pengusaan Bahasa Inggrisnya sangat minim. Kalaupun ada tiga tenaga pendidikan Bahasa Inggris, statusnya hanyalah sukarelawan. “Itu jadi PR kami. Tapi, mereka (guru) akan didiklat khusus sebelum pelaksaan nanti,” beber Suyadi menguatkan.


No comments yet
Comments feed for this article